.:: perbandinganmazhab.com ::.
Tema (7) : Pernikahan - 19. Walimah urs

1. Hukum Mengadakan Walimah

A. Mazhab Al-Hanafiyah

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H) menuliskan di dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

(ووليمة العرس سنة) قديمة وفيها مثوبة عظيمة

Dan walimatul ‘urs hukumnya sunnah yang ada sejak dahulu dan di dalamnya terdapat pahala yang sangat besar.

Al-Qadhi Zaadah Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 2 hal. 550

Al-Qadhi Zaadah (w. 1087 H) menuliskan di dalam kitabnya Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur sebagai berikut :

ووليمة العرس سنة) قديمة وفيها مثوبة عظيمة)

Dan hukum mengadakan walimatul ‘urs sunnah yang ada sejak dahulu dan di dalamnya terdapat pahala yang sangat besar.

Al-Qadhi Zaadah Majma’ Al-Anhur fii Syarhi Multaqa Al-Abhur , jilid 2 hal. 550

Ibnu Abdin (w. 1252 H) menuliskan di dalam kitabnya Raddu Al-Mukhtar ala Durr Al-Mukhtar sebagai berikut :

وفي الاختيار: وليمة العرس سنّة قديمة

Dan dalam kitab ‘Al-Ikhtiyar’ : Hukum dari mengadakan walimatul ‘urs adalah sunnah yang sudah ada sejak lama...

Ibnu Abdin Raddu Al-Mukhtar ala Durr Al-Mukhtar, jilid 6 hal. 347

B. Mazhab Al-Malikiyah

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(المسألة الثالثة) في الوليمة وهي مأمور بها ومحلها بعد البناء

Mengadakan walimah itu diperintahkan, dan waktunya setelah terjadinya hubungan suami istri.

Ibnu Juzai Al-Kalbi Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 130

Ad-Dasuqi (w. 1230 H) menuliskan di dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi sebagai berikut :

وظاهر كلام المصنف استحباب الوليمة ولو ماتت المرأة أو طلقت.

Perkataan penulis lebih jelasnya adalah dianjurkannya mengadakan walimah, meskipun sang istri telah meninggal atau dithalaq.

Ad-Dasuqi Hasyiyatu Ad-Dasuqi, jilid 2 hal. 337

Muhammad Ulaisy (w. 1299 H) menuliskan di dalam kitabnya Minah Al-Jalil ala Mukhtashar Al-Allamah Khalil sebagai berikut :

المذهب ندبها …وتحصل السنة بأي شيء أطعمه ولو بمدي شعير

Menurut Madzab Maliki, Disunnahkan mengadakan walimah, dan sunnah tersebut bisa terlaksana dengan menyuguhkan makanan apapun, meski hanya dengan satu mud gandum

Muhammad Ulaisy Minah Al-Jalil ala Mukhtashar Al-Allamah Khalil, jilid 3 hal. 528

C. Mazhab Asy-Syafi'iyah

Asy-Syirazi (w. 476 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhadzdzab sebagai berikut :

وأما وليمة العرس فقد اختلف أصحابنا فيها فمنهم من قال هي واجبة وهو المنصوص لما روى أنس رضي الله عنه قال: تزوج عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أولم ولو بشاة1" ومنهم من قال هي مستحبة لأنه طعام لحادث سرور فلم تجب

Mengenai walimatul 'urs, Para ulama dalam mazhab kami berbeda pendapat, sebagian mereka mengatakan wajib dan dalilnya jelas sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA berkata : telah menikah Abdurrahman bin Auf RA, kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya : 'Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing'. Dan sebagian mereka berkata mustahab karena merupakan ajakan makan untuk berbagi kebahagiaan maka tidak wajib.

Asy-Syirazi Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal. 477

An-Nawawi (w. 676 H) menuliskan di dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin sebagai berikut :

وفي وليمة العرس قولان، أو وجهان. أحدهما: أنها واجبة، لقوله صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: «أولم ولو بشاة» وأصحهما: أنها مستحبة كالأضحية وسائر الولائم،

Tentang walimatul 'urs ada dua pendapat : Yang pertama : hukumnya wajib, sebagaimana perkataan Rasulullah SAW dalam hadits shahih : 'Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing'. Dan pendapat yang paling kuat : hukumnya mustahab sebagaimana qurban dan walimah secara umum.

An-Nawawi Raudhatu At-Thalibin, jilid 7 hal. 333

Al-Hishni (w. 829 H) menuliskan di dalam kitabnya Kifayatu Al-Akhyar sebagai berikut :

والوليمة على العرس مستحبة ...

Mengadakan walimatul 'urs hukumnya mustahab ...

Al-Hishni Kifayatu Al-Akhyar, jilid 1 hal. 373

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) menuliskan di dalam kitabnya Asna Al-Mathalib Syarah Raudhatu At-Thalib sebagai berikut :

(والكل مستحب) ودليل استحباب الوليمة ... أنه «قال لعبد الرحمن بن عوف وقد تزوج أولم ولو بشاة» والأمر فيه للندب قياسا على الأضحية ... ولو كان الأمر للوجوب لوجبت وهي لا تجب إجماعا لا عينا ولا كفاية

(Hukum semua (walimah) mustahab). Dalilnya adalah ... Rasulullah (berkata kepada Abdurrahman bin 'Auf yang telah menikah 'adakanlah walimah walau dengan seekor kambing'). Dan maksud perintah dalam hadits ini adalah nadb (sunnah) karena diqiyaskan kepada qurban ... Jika maksud perintah disini adalah wajib, pasti sudah diwajibkan, akan tetapi tidak ada yang mewajibkan secara ijma'. Tidak wajib 'ain dan tidak juga wajib kifayah.

Zakaria Al-Anshari Asna Al-Mathalib Syarah Raudhatu At-Thalib, jilid 3 hal. 224

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) menuliskan di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

فإنها (سنة) مؤكدة لثبوتها عنه - صلى الله عليه وسلم - قولا وفعلا

Hukum walimatul 'urs (sunnah) muakkadah sebagaimana telah ditetapkan oleh Nabi -Shallallahu 'alahi wa sallam- baik perkataan dan perbuatan.

Al-Khatib Asy-Syirbini Mughni Al-Muhtaj, jilid 4 hal. 404

Al-Malibari (w. 987 H) menuliskan di dalam kitabnya Fathu Al-Muin sebagai berikut :

الوليمة لعرس سنة مؤكدة

Hukum walimatul 'urs sunah muakkadah

Al-Malibari Fathu Al-Muin, jilid 1 hal. 490

Ar-Ramli (w. 1004 H) menuliskan di dalam kitabnya Nihayatu Al-Muhtaj sebagai berikut :

(وليمة العرس سنة) مؤكدة

(Hukum walimatul 'urs sunnah) muakkadah ...

Ar-Ramli Nihayatu Al-Muhtaj, jilid 6 hal. 369

D. Mazhab Al-Hanabilah

Al-Khiraqi (w. 334 H) menuliskan di dalam kitabnya Mukhtshar Al-Khiraqi sebagai berikut :

كتاب الوليمة ويستحب لمن تزوج أن يولم ولو بشاه

Kitab walimah

Dan mustahab hukumnya bagi yang menikah untuk mengadakan walimah walaupun dengan seekor kambing

Al-Khiraqi Mukhtshar Al-Khiraqi, jilid 0 hal. 108

Abul Khatab Al-Kalwadzani (w. 510 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Hidayah sebagai berikut :

2. الهداية على مذهب الإمام أحمد (ص: 409) باب الوليمة والنثر (4) وليمة العرس مستحبة

(bab walimah dan pesta) Walimah pernikahan hukumnya mustahab.

Abul Khatab Al-Kalwadzani Al-Hidayah , jilid 0 hal. 409

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad sebagai berikut :

[باب الوليمة] وهي: الإطعام في العرس. وهي مستحبة،... وليست واجبة

(Bab walimah)

Yaitu makanan dihidangkan ketika walimah pernikahan, hukumnya mustahab... dan bukan wajib.

Ibnu Qudamah Al-Kafi fi Fiqhi Al-Imam Ahmad, jilid 3 hal. 77

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

[مسألة يستحب لمن تزوج أن يولم ولو بشاة] مسألة (5662) ؛ قال (ويستحب لمن تزوج أن يولم ولو بشاة) . لا خلاف بين أهل العلم في أن الوليمة سنة في العرس مشروعة

(Permasalahan mengadakan walimah mustahab bagi yang mengadakan pernikahan walaupun dengan sesekor kambing)

(Masalah ke 5662): Ibnu Qudamah berkata: Mustahab hukum walimah bagi yang menikah walaupun dengan seekor kambing, dan tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa walimah pernikahan sunnah serta disyari'atkan.

Ibnu Qudamah Al-Mughni, jilid 7 hal. 275

Ibnu Qudamah (w. 620 H) menuliskan di dalam kitabnya Umdatu Al-Fiqhi sebagai berikut :

باب الوليمة وهي دعوة العرس وهي مستحبة

Bab Walimah

Yaitu undangan untuk pernikahan hukumnya mustahab

Ibnu Qudamah Umdatu Al-Fiqhi, jilid 0 hal. 113

Abdul Qadir Asy-Syaibani (w. 1135 H) menuliskan di dalam kitabnya Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Thalib sebagai berikut :

وكل هذه الدعوات مباحة لا تكره ولا تستحب، والإجابة إليها مستحبة، إلا (وليمة العرس) (4) فإنها (سنة مؤكدة)

Semua undangan acara tersebut diatas (seperti walimah aqiqah dst) mubah dan tidak makruh dan bukan mustahab, dan menghadirinya mustahab, kecuali walimah pernikahan hukumnya sunnah muakkad.

Abdul Qadir Asy-Syaibani Nail Al-Marib bi Syarhi Dalil Ath-Thalib, jilid 2 hal. 202

E. Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm (w. 456 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

مسألة: وفرض على كل من تزوج أن يولم بما قل أو كثر.

Permasalahan : Dan barang siapa yang telah menikah maka hukumnya fardhu untuk mengadakan walimah baik secara kecil-kecilan atau besar-besaran.

Ibnu Hazm Al-Muhalla bil Atsar, jilid 9 hal. 20