.:: perbandinganmazhab.com ::.
Tema (7) : Pernikahan - 19. Walimah urs

0. Kapan Seharusnya Walimah Diadakan?

A. Mazhab Al-Hanafiyah

B. Mazhab Al-Malikiyah

Ibnu Juzai Al-Kalbi (w. 741 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Qawanin Al-Fiqhiyah sebagai berikut :

(المسألة الثالثة) في الوليمة وهي مأمور بها ومحلها بعد البناء

Mengadakan walimah itu diperintahkan, dan waktunya setelah terjadinya hubungan suami istri.

Ibnu Juzai Al-Kalbi Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, jilid 1 hal. 130

Ad-Dasuqi (w. 1230 H) menuliskan di dalam kitabnya Hasyiyatu Ad-Dasuqi sebagai berikut :

ووقتها بعد البناء كما عبر به ابن الحاجب وما ذكره من كونها بعد البناء هو المشهور وهو قول مالك أرى أن يولم بعد البناء

(قوله لم تكن وليمة شرعا) أي لكونها وقعت قبل وقتها (قوله فإن فعلت قبل أجزأت) أي لأن غاية ما فيه إنها فعلت في غير وقتها المستحب وعلى هذا فقول المصنف ووقتها بعد البناء المراد وقتها الذي يستحب فعلها فيه

Waktu pelaksanaan walimah itu setelah terjadinya hubungan suami istri, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajib, inilah pendapat yang masyhur dan inilah pendapat imam Malik: Menurut pendapat saya, pelaksanaan walimah itu setelah terjadinya hubungan suami istri.

walimah tidak diperintahkan jika sebelum waktu yang di sunnahkan, dan menurut penulis, waktu yang disunnahkan adalah setelah terjadinya hubungan suami dan istri.

Ad-Dasuqi Hasyiyatu Ad-Dasuqi, jilid 2 hal. 337

C. Mazhab Asy-Syafi'iyah

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) menuliskan di dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj sebagai berikut :

والأفضل فعلها عقب الدخول ... ولا تفوت بطلاق ولا موت ولا بطول الزمن

(Waktu mengadakan walimah) yang paling utama adalah setelah jima' ... tidak ditunda hingga talak, kematian, atau waktu yang begitu lama.

Ibnu Hajar Al-Haitami Tuhfatul Muhtaj, jilid 7 hal. 424

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) menuliskan di dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj sebagai berikut :

والأفضل فعلها بعد الدخول؛ لأنه - صلى الله عليه وسلم - لم يولم على نسائه إلا بعد الدخول

(Waktu mengadakan walimah) yang paling utama adalah setelah jima'; karena Nabi -shallallahu 'alahi wa sallam- tidak mengadakan walimah bagi para istrinya kecuali setelah jima'.

Al-Khatib Asy-Syirbini Mughni Al-Muhtaj, jilid 4 hal. 404

Al-Malibari (w. 987 H) menuliskan di dalam kitabnya Fathu Al-Muin sebagai berikut :

ووقتها الأفضل بعد الدخول للاتباع وقبله بعد العقد يحصل بها أصل السنة

Waktu mengadakan (walimah) yang paling utama adalah setelah jima' sebagaimana dilakukan Nabi, dan setelah akad sebelum jima' masih termasuk sunnah

Al-Malibari Fathu Al-Muin, jilid 1 hal. 490

D. Mazhab Al-Hanabilah

Al-Mardawi (w. 885 H) menuliskan di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Marifati Ar-Rajih min Al-Khilaf sebagai berikut :

إحداهما: تستحب الوليمة بالعقد. قاله ابن الجوزي. واقتصر عليه في الفروع ...

وقال الشيخ تقي الدين - رحمه الله -: تستحب بالدخول.

قلت: الأولى أن يقال: وقت الاستحباب موسع من عقد النكاح إلى انتهاء أيام العرس. لصحة الأخبار في هذا وكمال السرور بعد الدخول، لكن قد جرت العادة فعل ذلك قبل الدخول بيسير.

... Waktu walimah mustahab dilaksanakan bersamaan dengan waktu akad. Yang mengatakannya adalah ibnu jauzy, dan mencukupkannya di kitab "Al-Furu'"...

Dan Syeikh Taqiyyuddin berkata: Waktu walimah mustahab dengan terjadinya hubungan suami istri.

Dan saya penulis berkata (Al-Mardawy): yang utama dikatakan: waktu mustahab luas, yaitu dari akad nikah sampai akhir hari-hari pernikahan. Karena kesahihan hadist dalam bab ini, dan kesempurnaan nya sebuah kebahagiaan setelah melakukan hubungan suami istri, namun biasanya walimah diadakan tidak lama sebelum melakukan hubungan suami istri.

Al-Mardawi Al-Inshaf fi Marifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, jilid 8 hal. 317

Al-Buhuti (w. 885 H) menuliskan di dalam kitabnya Kasysyaf Al-Qinna sebagai berikut :

وقال ابن الجوزي: بالعقد واقتصر عليه في الفروع والمبدع وقدمه في تجريد العناية قال في الإنصاف: الأولى أن يقال: وقت الاستحباب موسع من عقد النكاح إلى انتهاء أيام العرس لصحة الأخبار في هذا وهذا، وكمال السرور بعد الدخول. (وجرت العادة) بجعل الوليمة (قبله) أي قبل الدخول (بيسير و)

Ibnu Jauzy berkata: Waktu walimah yang mustahab adalah bersamaan dengan waktu akad, dan mencukupkannya di kitab "Al-Furu'" dan "Al-Mubdi'" dan telah disebutkan dalam kitab "tajrid Al-'Inayah".

Dan penulis Al-Inshaf berkata (Al-Mardawy): yang utama dikatakan: waktu mustahab luas, yaitu dari akad nikah sampai akhir hari-hari pernikahan. Karena kesahihan hadist dalam bab ini, dan kesempurnaan nya sebuah kebahagiaan setelah melakukan hubungan suami istri, namun (biasanya) walimah diadakan beberapa saat tidak lama(sebelum) melakukan hubungan suami istri

Al-Buhuti Kasysyaf Al-Qinna, jilid 5 hal. 165

Al-Buhuti (w. 885 H) menuliskan di dalam kitabnya Syarah Muntaha Al-Iradat sebagai berikut :

(، وتسن الوليمة بعقد نكاح) ; لأنه صلى الله عليه وسلم فعلها، وأمر بها فقال لعبد الرحمن بن عوف حين قال له: تزوجت " أولم " ولو بشاة،...

وقوله بعقد قاله ابن الجوزي، وقدمه في تجريد العناية، وقال الشيخ تقي الدين: تستحب بالدخول. وفي الإنصاف قلت: الأولى أن يقال: وقت الاستحباب موسع من عقد النكاح إلى انتهاء العرس لصحة الأخبار في هذا وهذا، وكمال السرور بعد الدخول لكن قد جرت العادة بفعل ذلك قبل الدخول بيسير. اه

( Dan disunnahkan mengadakan walimah bersamaan akad nikah) karena Rasulullah melakukan hal itu, dan memerintahkan hal tersebut, dan Rasul berkata kepada Abdurrahman bin Auf: engkau telah menikah, maka adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa walimah diadakan bersamaan dengan akad, adalah perkataan ibnu jauzy yang mengatakan bahwa waktu walimah mustahab bersamaan dengan waktu akad, dan mencukupkannya di kitab "Al-Furu'" dan telah menyebutkan sebelumnya di "Al-'Inayah"

Dan Syeikh Taqiyyuddin berkata: Waktu walimah mustahab dengan terjadinya hubungan suami istri.

Dan saya penulis berkata (Al-Mardawy)dalam kitab Al-Inshaf: yang utama dikatakan: waktu mustahab untuk mengadakan walimah adalah luas, yaitu dari akad nikah sampai akhir hari-hari pernikahan. Karena kesahihan hadist dalam bab ini, dan kesempurnaan nya sebuah kebahagiaan setelah melakukan hubungan suami istri, namun biasanya walimah diadakan tidak lama sebelum melakukan hubungan suami istri

Al-Buhuti Syarah Muntaha Al-Iradat, jilid 3 hal. 32

E. Mazhab Azh-Zhahiriyah